Jamaah Jum'ah Yang dimuliakan Allah SWT
Ijinkanlah dalam kesempatan ini kami mengajak kaum muslimin untuk terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan cara selalu melaksanakan perintah-perintahNya dan sekaligus menghindari larangan-laranganNya. Salah satu wujud ketaqwaan muslimin adalah mereka ingat akan kematian. Oleh karena itu persiapan bekal untuk menyambut kematian selalu mereka lakukan yaitu dengan melakukan amal-amal sholeh.Pada suatu waktu khaifah Sulaiman bin Abdul Malik datang ke Madinah. Beliau ingin bertemu dengan Abu Hazm. Khalifah menanyakan bagaimana keadaan seseorang pada saat ia meninggal dunia. Maka Abu Hazm pun berkata bahwa keadaan orang yang akan meninggal dunia itu ada 2 macam :
I Seperti keadaaan perantau yang dipanggil pulang ke kampung halamannya untuk menyaksikan hasil kiriman yang sudah diwujudkan dalam bentuk rumah bagus, dengan taman yang indah. Dapat kita bayangkan, bagaimana sukacitanya perasaan sang perantau. Tentu ia ingin segera mempercepat kepulangannya .Lebih-lebih jika dikabarkan pula bahwa kedatangannya akan disambut oleh masyarakat dengan meriah sebagai perantau yang berhasil.
II Seperti penjahat yang lari dari penjara kemudian dia tertangkap kembali. Ia akan diseret, disiksa dan dilemparkan dengan kejam ke tempat semula. Dapat dibayangkan, betapa takut dan ngerinya perasaan orang itu.
Mendengar penjelasan Abu Hazm , kontan khalifah menangis tersedu-sedu dan berdoa kepada Alah SWT, agar dirinya pada saat akan mati nanti tidak seperti layaknya seorang penjahat yang melarikan diri kemudian tertangkap kembali.
Hadirin jamaah jum'at rahimakumullah
Kelompok pertama pada riwayat ini menggambarkan orang-orang yang menyakini bahwa suatu saat mereka akan kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu mereka berusaha sekuat tenaga mempersiapkan bekal sebanyak mungkin untuk bekal perjalanan yang amat jauh yaitu alam akherat. Bekal itu ialah amal saleh dengan jalur hablum minallaah dan hablum minannaas.
Sedangkan kelompok kedua, mewakili orang-orang yang lalai dalam mempersiapkan bekal pulang. Umur dihabiskan untuk memenuhi kepuasan hawa nafsu seperti foya-foya dan mengumbar nafsu syahwat. Mereka mengukur kesuksesan hidup di dunia dari kehebatan fasilitas atau materi yang mereka miliki. Allah memperingatkan orang-orang seperti ini dengan firmanNya dalam Q.S Al Baqarah : 212 .
زيّن للّذين كفروا الحيوة الدّنيا ويسخرون من الّذين امنوا والّذين اتّقوا فوقهم يوم القيامة والله يرزق من يّشاء بغير حساب
Artinya : " Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan memandang hina orang-orang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendaki Nya tanpa batas "
Seorang ulama besar Islam, Imam Ghazali menuturkan suatu kiasan yang akan dialami oleh setiap manusia di alam akherat nanti. Beliau bertutur setiap manusia kelak akan melintasi jembatan yang dibawahnya terdapat neraka. Jembatan ini dikenal dengan sebutan shiratal mustaqim. Kelak akan ada yang melewatinya secepat kilat, ada yang berlalu seperti angin atau sekencang larinya kuda, dan ada pula yang secepat terbangnya burung. Namun disamping itu ada pula yang hanya berjalan biasa, atau merangkak bahkan ada pula yang hangus menjadi arang.Ada pula yang tersandung hingga terjatuh kedalam neraka. Perbedaan cara ini dikarenakan perbedaan sikap hidup selama di dunia yaitu apakah selalu taat atau sering membangkang pada aturan-aturan Allah SWT.
Shiratal mustaqim bukanlah jembatan seperti di dunia yang dapat ditempuh dengan kekuatan fisik atau kaki. Tetapi jembatan ini hanya dapat diseberangi dengan kekuatan hati. Hati yang selalu membangkang ibarat sepasang kaki yang lumpuh. Sedangkan hati yang selalu taat pada aturan-aturan Allah SWT ibarat sepasang kaki seorang pelari ulung.
Hadirin jamaah jum'at rahimakumullah
Sekali lagi yang perlu kita ingat adalah perjalanan kita masih panjang. Oleh karena itu marilah kita review / tengok kembali perbekalan amal kita masing-masing. Jangan sampai nanti kita terpeleset pada waktu meniti jembatan, sebagaimana yang dikiaskan oleh Imam Ghazali di atas. Demikian yang kami sampaikan.Kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Pokjaluh 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar