Pokjaluh-Kita hidup dalam sebuah lingkaran sejarah. Apa yang kita alami saat ini merupakan hasil dari sejarah masa lalu kita. Demikian juga saat ini kita sedang membuat sejarah untuk kehidupan kita di masa yang akan datang.
Demikian juga dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara.
Banyaknya peristiwa dan kejadian yang memilukan sekaligus memalukan bagi bangsa ini juga merupakan hasil dari proses sejarah yang telah kita lakukan. Bencana yang sambung-menyambung; aksi kekerasan yang merajalela; korupsi yang menggila; para politisi yang sudah tak punya nurani; terorisme berkedok agama; semuanya tentu tak bisa dilepaskan begitu saja dengan tingkah laku bangsa ini sebelumnya.
Kita tahu bahwa sejak reformasi digulirkan telah banyak yang berubah dari masyarakat Indonesia. Euforia kebebasan setelah sekian puluh tahun dipasung tidak disikapi secara cerdas bahwa kita tetaplah bangsa yang memiliki tradisi ketimuran yang kuat. Selain itu, Indonesia adalah negara dengan muslim terbesar di dunia yang memegang teguh kaidah-kaidah agama.
Kebebasan tehnologi informasi yang ditandai munculnya tv swasta dan media lain ditelan mentah oleh bangsa ini. Kegiatan membaca Al Qur'an (mengaji) sudah jarang terdengar di rumah, surau atau masjid setiap habis maghrib. Anak-anak dan orang tua lebih senang memlototi layar kaca mereka dibanding menyimak dan membaca kalam Ilahi. Demikian juga dengan kegiatan-kegiatan keagamaan lain banyak yang terbengkalai dan kalah oleh kemajuan tehnologi yang bernama tv.
Celakanya pemerintah juga tidak peduli dengan perubahan dratis itu. Mereka dan orang-orang pintar negeri ini lebih suka mengurusi politik dan kekuasaan. Mereka tidak mau mengurusi hal yang berkaitan dengan masalah agama karena menganggap pendidikan agama adalah urusan para kyai dan ustad saja. Mereka tidak sadar bahwa nilai-nilai agama merupakan pondasi dalam membangun bangsa ini ke depan. Perlahan tapi pasti telah membiarkan bangsa ini berjalan menuju jurang kehancuran.
Dan sekarang apa yang telah ditanam bangsa ini sejak masa reformasi dulu telah berbuah pahit. Bencana datang silih berganti. Kriminalitas dan kekerasan yang meningkat hampir tiap hari mewarnai berita di media. Terorisme dengan aksi terornya yang meresahkan begitu subur di negeri ini. Aliran sesat berkembang dengan nabi dan tuhan baru.
Semua itu tentu tak bisa kita lepaskan dari sejarah yang telah kita buat sendiri di masa lalu. Wajar jika bangsa ini memetik buah kepahitan karena kita sendiri yang menabur biji kepahitan itu. Dan rasanya tak ada gunanya menyesali nasib atau menyalahkan orang lain.
Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menanam kembali seperti apa yang telah ditanam oleh orang tua kita dahulu. Nilai-nilai keagamaan dan tradisi bangsa ketimuran perlu kita semai lagi dilahan kebangsaan kita. sehingga sepuluh atau dua puluh tahun ke depan kita akan mengunduh buah yang manis bagi kehidupan masyarakat kita. Dan kita akan menemukan jati diri kita dan akan menjadi bangsa yang besar yang diperhitungkan dunia. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar