Inilah adalah cerita tentang Gus Mus dan Gus Dur (dua orang yang saya kagumi dalam kehidupan saya) ketika mereka masih belajar bersama-sama di Kairo. Cerita ini saya baca di sebuah surat kabar local dan sangat menarik hati saya sehingga saya ingin menulisnya di catatan ini. Siapa tahu ada orang lain yang ingin membaca kisah ini, ya silahkan saja.
Konon ceritanya, orang Mesir itu paling doyan daging tapi tidak suka jerohannya. Menurut mereka, makanan itu hanya layak dikonsumsi anjing. Makanya disana harganya sangat murah. Akan tetapi mahasiswa Indonesia yang belajar di Kairo sana sangat gemar sekali dengan jerohan. Asal bisa memasaknya maka jadilah ia hidangan lezat yang membangkitkan selera. Dan salah satu anak Indonesia yang pandai mengolah jerohan menjadi masakan yang nikmat adalah Gus Dur .
Konon ceritanya, orang Mesir itu paling doyan daging tapi tidak suka jerohannya. Menurut mereka, makanan itu hanya layak dikonsumsi anjing. Makanya disana harganya sangat murah. Akan tetapi mahasiswa Indonesia yang belajar di Kairo sana sangat gemar sekali dengan jerohan. Asal bisa memasaknya maka jadilah ia hidangan lezat yang membangkitkan selera. Dan salah satu anak Indonesia yang pandai mengolah jerohan menjadi masakan yang nikmat adalah Gus Dur .
Maka dibagilah tugas. Gus Mus mendapat tugas untuk belanja jerohan di pasar. Karena sering membeli jerohan di tempat yang sama maka sang penjual pun mulai mengenalnya dan memberinya harga diskon. Pernah suatu hari sang penjual bertanya kepada Gus Mus, “Ente sering membeli jerohan banyak apa punya peliharaan anjing?”. Gus Mus yang ditanya hanya mesam-mesem saja.
Alkisah hal ini berjalan cukup lama sampai akhirnya Gus Dur, sang juru masak pindah belajar ke Baghdad. Dan sejak saat itu Gus Mus pun tidak pernah lagi belanja jerohan. Suatu hari ketika ada keperluan membeli sesuatu maka Gus Mus ke pasar dan secara tidak sengaja bertemu dengan penjual daging yang menjadi langganannya membeli jerohan. Dengan bahasa sana si penjual bertanya, “ Hei, apa kabar? Koq udah lama tak pernah beli jerohan lagi. Memangnya anjingnya kemana?”. Dengan senyum Gus Mus menjawab “ Iya tuan, sekarang anjingnya sudah pindah ke Baghdad!”. Jawab Gus Mus sambil berlalu meninggalkan sang penjual yang terbengong-bengong sendiri.
Wallahu a’lamu bish showaab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar